Mengintip Prestasi RSBI SMPN 1 Slawi

Setahun Raih Tiga Piala Bahasa Inggris

PREDIKAT Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang kini disandang SMPN 1 Slawi memanglah bukan isapan jempol semata. Bisa dibayangkan, dalam setahun tiga trofi sekaligus mampu ditoreh anak dididiknya untuk mengharumkan nama Kabupaten tegal ditingkat Provinsi Jawa Tengah. Lalu ?

LAPORAN : Hermas Purwadi

DIANTARA prestasi yang telah diraih oleh peserta didik SMPN 1 Slawi dibawah nahkoda Slamet SPd MPd diantaranya Karya Terbaik tingkat Nasional tahun 2010 (Qutrotunnada, kelas 8.4) dibimbing oleh guru Agus Riyanto, Juara 2 Lomba Pidato MAPSI tingkat Nasional tahun 2010 (Maulida Fitria Z, kelas 8.7) dibimbing oleh Ustadz Shodiq Abdullah SAg, peraih medali perunggu National English Olympic tahun 2011 (Marsha Rizki Kumala Sari) dibimbing oleh Muflih Nurshiam SPd, Juara 2 lomba Debat Bahasa Inggris tingkat Provinsi Jawa Tengah (Marsha R, Deks Sazha Salsabil, dan Fania Rizki Ramadhani) dibimbing oleh Bunyamin, SPd MHum dan Subandi SPd, serta The Best Story Teller pada event English Marathon Competition 2011 (Nadya Pramesty Nugraheni) dibimbing oleh Bunyamin SPd MHum dan Amalia Rachmawati SPd.

Selebihnya anak didik RSBI SMPN 1 Slawi juga mampu menyabet Juara Harapan 3 lomba Story Telling pada FLS 2N 2011 tingkat Provinsi Jawa Tengah (Anindita Ratna Santoso) dibimbing oleh Bunyamin SPd MHum dan Amalia Rachmawati SPd, Juara I lomba tari tingkat eks Karesidenan Pekalongan tahun 2010 (Murti) dibimbing oleh Sunarti SPd, dan Juara umum GSAM 2011 tingkat Kabupaten Tegal yang digelar oleh SMAN 1 Slawi dibimbing oleh Suminto SAg dan Sintha Kusuma Dewi SPd.

Prestasi juga mampu ditoreh dengan menjadi Juara I dan II putri Ganas English Competition tahun 2011 tingkat kabupaten (Putri Rachma Asri dan Nadya Pramesty Nugraheni) dibimbing oleh Bunyamin SPd MHum, Juara I dan 3 LCC Pramuka Putra tahun 2011 tingkat Kabupaten Tegal (Fredy Prasetyo, Rinal Krisna), serta Juara 3 lomba Mafis (Matematika dan Fisika) tingkat eks Karesidenan Pekalongan dibimbing oleh Slamet Wakhyono dan Sefulloh SPd.

Kepala SMPN 1 Slawi juga mengatakan bahwa UN 2011 kali ini SMPN 1 Slawi kembali meraih peringkat I dari seluruh SMP swata dan negeri di Kabupaten Tegal. “Seluruh prestasi tersebut diraih berkat usaha keras dan kerjasama yang baik antara kepala sekolah, komite, dewan guru, siswa dan orang tua siswa itu sendiri. Tanpa adanya usaha keras dan kerja sama yang baik prestasi yang sangat membanggakan tersebut tidak mungkin akan bisa diraih,” terangnya.

Pihak sekolah memang sudah menyiapkan peserta didiknya untuk mengikuti even-even lomba di tingkat kabupaten maupun tingkat provinsi melalui program pengembangan diri di luar jam pelajaran seperti pengembangan diri musik, paduan suara, seni tari, karawitan, marching band, olimpiade matematika, olimpiade IPA, olimpiade IPS, story telling, speech contest, Pramuka, PMR, PKS, dan lainnya.

“SMPN 1 Slawi siap menjadi kebanggan masyarakat Kabupaten Tegal dan Provinsi Jawa Tengah. Oleh karena itu, SMPN 1 Slawi harus segera berbenah diri. Apalagi SMPN 1 Slawi merupakan RSBI yang selalu menjadi incaran masyarakat kabupaten Tegal,” ujarnya.

Dia juga menegaskan akan segera berbenah diri untuk menjadi Sekolah Bertaraf Internasional karena tidak lama lagi sekolah ini juga akan mendapatkan sertifikat ISO. Semoga cepat terwujud. (*)

sumber:http://www.radartegal.com/index.php/Mengintip-Prestasi-RSBI-SMPN-1-Slawi.html

Advertisements

Saat ini Kota Tegal Miliki 22 Sarang Walet

HASIL pendataan tim Pemkot, saat ini ada 22 sarang burung walet. Keberadaannya diharapkan mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pajak, sesuai tujuan penyusunan Raperda pajak daerah. Sebab selama ini keberadannya tanpa ditarik pajak sama sekali.

Menurut Plt Kepala Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD), Maslurin, dasar penyusunan draf Raperda tentang pajak daerah yakni Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 akan berakhir pada 31 Desember 2011. Sehingga awal tahun 2012, harus menggunakan Perda pajak daerah baru, sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan berlaku, kecuali Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) akan berakhir 31 Desember 2013.

“Sesuai draf Raperda tentang pajak daerah yang kami ajukan, ada beberapa obyek wajib pajak yang diharapkan bisa meningkatkan PAD. Antara lain pajak sarang burung walet, pajak hotel, pajak restoran, pajak hiburan, pajak reklame, pajak penerangan jalan umum, pajak parkir, pajak air tanah, pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan serta bea perolehan hak atas tanah dan bangunan,” ujarnya.

Lebih lanjut Maslurin mengungkapkan, salah satu obyek wajib pajak baru yang selama ini belum tersentuh sama sekali, yakni pajak sarang burung walet. Padahal jumlahnya cukup banyak, hasil pendataan tim di Kota Tegal ada 22 sarang burung walet, dan selama ini tidak ada kontribusi pajak atau pendapatan ke kas daerah. Sehingga dengan diterapkannya Perda pajak daerah nanti, diharapkan menambah PAD Kota Tegal dari sektor pajak. Soal tarif dan ketentuan teknis lainnya, saat ini draf Raperda bakal dibahas alat kelengkapan DPRD setempat. “Pengambilan sarang burung walet yang dikenakan, yakni Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP, red). Sedangkan kegiatan pengambilan dan atau pengusahaan sarang burung walet lainnya yang ditetapkan dengan Perda.”

Ditandaskan Maslurin, dengan adanya beberapa obyek wajib pajak baru, diharapkan PAD Kota Tegal dapat naik. Soal persentasenya dibahas lebih teknis ketika pembahasan Raperda. Sedangkan PAD Kota Tegal tahun 2010 sebesar Rp12 miliar, dan tahun ini ditargetkan Rp16 miliar. “Kami targetkan PAD 2011 mencapai Rp16 miliar dapat tercapai. Bahkan dengan adanya obyek wajib pajak baru, kami harapkan bisa lebih dari Rp16 miliar,” tukasnya.

Di tempat terpisah, Ketua Komisi II DPRD, Hendria Priatmana SE meminta dengan adanya Perda tentang pajak daerah, ada target riil kenaikan PAD. Sehingga bukan masih abstrak, tapi ada target riil kenaikan secara persentase. Sebab kalau tidak ada kenaikan, maka Perda pajak daerah sia-sia. “Dalam draf Raperda pajak daerah, kami melihat ada beberapa obyek wajib pajak. Sehingga kami minta keberadaanya mendongkrak PAD, bukan abstrak kenaikannya.”

sumber:http://www.radartegal.com/index.php/Saat-ini-Kota-Tegal-Miliki-22-Sarang-Walet.html

MAN Tegal Ciptakan Siswa Profesional

MADRASAH Aliyah Negeri (MAN) Kota Tegal memasuki tahun ajaran baru 2011/2012 terus berbenah. Hal ini dilakukan guna mempertahankan prestasi, dengan meluluskan 100 persen siswa-siswinya selama 5 kali berturut-turut sejak tahun 2007.

Kepala MAN Kota Tegal, Drs Kamaludin MM melalui Kepala Tata Usaha (TU), Widodo menuturkan, berbagai program dan agenda telah dijalankan sejak lama. Sehingga mampu memberikan nilai positif terhadap prestasi siswa. Apalagi, dengan dibangunnya laboratorium dan perpustakaan, diharapkan mampu meningkatkan semangat serta kemampuan siswa.

“Hal ini tentu akan meningkatkan mutu kegiatan belajar-mengajar. Tidak hanya teori yang diberikan, tapi juga praktek kepada seluruh siswa-siswi yang ada. Dukungan para guru, siswa-siswi, komite sekolah serta orang tua, sangat dibutuhkan dalam meningkatkan berbagai prestasi, baik bidang akademik maupun nonakademik. Sehingga prestasi yang diraih selama ini, dapat dipertahankan dan ditingkatkan di tingkat kota, regional bahkan berkarya nyata di tingkat nasional.”

Dia menjelaskan, penambahan berbagai sarana dan prasarana, tentu meningkatkan berbagai kegiatan. Sehingga kemampuan siswa-siswi selalu terasah dan meningkat, serta mudah menangkap apa yang diberikan para guru. Harapannya, siswa-siswi mampu menangkap peluang yang ada dengan terus berprestasi. Sehingga dapat memberikan karya nyata yang mampu membawa harum nama sekolah.

“Dengan kurikulum yang ada, diharapkan apa yang diajarkan setiap hari mampu membentuk karakter atau pribadi siswa-siswi mandiri, profesional, dan memiliki akhlak mulia. Jika itu terwujud, maka muncul -generasi muda berprestasi yang sarat prestasi, serta mempunyai budi pekerti luhur. Sehingga estafet kepemimpinan terus berjalan dengan baik. Inilah yang kami harapkan. Berbagai upaya selalu kami lakukan, agar anak didik mendapatkan yang terbaik untuk terus berkarya,” paparnya.

sumber:http://www.radartegal.com/index.php/MAN-Tegal-Ciptakan-Siswa-Profesional.html#CommentForm

Kota Tegal Miliki Potensi Wisata

Kota Tegal Miliki Potensi Wisata

Ditulis oleh Administrator
Monday, 21 March 2011
ImageHASIL Kunjungan Kerja (Kunker) Komisi I ke Kabupaten Lamongan, ternyata pendapatan dari sektor wisata jadi andalan. Dari Pendapatan Asli Dearah (PAD) Rp. 1,4 Triliun,

sektor wisata berhasil menyumbang pendapatan Rp. 14 Miliar atau 10 persen PAD. Sedangkan untuk Kota Tegal, pendapatan dari sektor wisata cukup terpuruk, dan perlu dicarikan solusi secepatnya. Sebenarnya kalau melihat kondisi pantai di daerah ini, memiliki potensi sangat luar biasa. Selain akses jalan memadai, letak Kota Bahari sangat strategis demi pengembangan wisata. Namun, guna memajukan sektor ini, Pemerintah Kota (Pemkot) melalui Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar), harus merangkul investor.

Menurut anggota Komisi II DPRD, H Harun Abdi Manap SH, Senin (21/3) kemarin, hasil Kunker ke Kabupaten Lamongan, ternyata pendapatan dari sektor wisata jadi andalan Rp. 14 M, PAD Rp. 1,4 T atau 10 persen dari PAD. Padahal secara letak dan geografis, Kota Tegal memiliki kesamaan dengan Kabupaten Lamongan. Sebab termasuk wilayah pantai, yang jadi andalan wisata. Sehingga kalau serius, maka Kota Tegal juga mampu meniru Lamongan. “Wisata pantai di sana, dengan model Ancol mini dapat mendongkrak PAD. Semua fasilitas yang ada di Ancol, ternyata ada di Lamongan. Namun tidak dikelola pemerintah sendiri, wisata pantai digarap investor. Pendapatan bersih dari sektor ini, ternyata mencapai Rp. 14 miliar.”

Dijelaskan Harun, agar bisa lebih maksimal, seharusnya Kota Tegal tak hanya mengembangkan tanah milik Pelindo. Tapi pengembangan wisata dikembangkan di tanah milik Pemkot, terutama pantai Muarareja. Namun, supaya tidak membebankan APBD maka pengembangan wisata dengan mengajak investor. Apalagi pantai Muarareja sangat strategis, selain dekat akses Jalan Lingkar Utara (Jalingkut), juga berada di perbatasan dengan Kabupaten Brebes. Kalau jeli, maka banyak hal yang bisa dikembangkan. “Kalau melihat pendapatan dari sektor wisata kami cukup prihatin. Karena hanya sekitar Rp. 1 miliar. Sehingga jika dihitung dari PAD Kota Tegal, yakni Rp. 480 miliar. Maka pendapatan sektor wisata kurang dari 1 persen. Padahal masih banyak potensi yang dapat digali. Kalau Kabupaten Lamongan bisa, kenapa Kota Tegal tidak?”

Ditambahkannya, selama ini sektor pendapatan wisata hanya minoritas. Tapi yang jadi andalan justru pendapatan dari sektor rumah sakit, pasar, dan pajak. Sehingga hasilnya selalu stagnan, berbeda dengan sektor wisata, apabila dikelola maksimal pendapatannya terus bertambah. “Dengan kondisi semacam ini, kami optimis pendapatan sektor wisata Kota Tegal mampu jadi andalan. Asalkan digarap serius, tidak setengah-setengah,” papar Harun mantap.

Di tempat terpisah, Kepala Disporabudpar, Ir HM Wahyudi mengungkapkan, semua hasil Kunker ke Kabupaten Lamongan, terkait pengembangan wisata pantai, pihaknya akan berkoordinasi dengan sejumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait. Termasuk melaporkan kepada wali Kota Tegal. Kalau memang memungkinkan, maka Pemkot bakal melakukan tindak lanjut atas hasil Kunker tersebut. Namun selama ini, target pendapatan sektor wisata selalu terpenuhi. Walaupun disbanding Lamongan memang jauh. “Kami akan berupaya melakukan inovasi demi peningkatan wisata. Termasuk melakukan penataan Obyek Wisata PAI (Pantai Alam Indah), demi menarik para calon pengunjung. Namun untuk mengarah Ancol mini seperti di Kabupaten Lamongan, kami rasa perlu kajian lebih mendalam.”

sumber:http://www.radartegal.com/index.php/Kota-Tegal-Miliki-Potensi-Wisata.html

WD Kenalkan Hardisk Eksternal 6TB

Pekerjaan tertentu membutuhkan penyimpanan yang ekstra besar. Itulah mengapa Western Digital (WD) mengenalkan hardisk eksternal berkapasitas 6 TB.

MyBook Studio Edition II merupakan hardisk eksternal dengan dual drive dari WD yang dirancang untuk pekerja kreatif. Kapasitasnya kini mencapai 6 Terabyte (TB).

MyBook Studio Edition II juga punya kemampuan yang diharapkan bisa menggiurkan bagi pengguna Mac. Perangkat ini sudah kompatibel dengan Apple Time Machine.

Untuk mengaksesnya, tersedia empat interface: eSATA, FireWire 800, FireWire 400 dan USB 2.0. Masing-masing punya kelebihan tersendiri, misalnya eSATA atau FireWire 800 cocok untuk kinerja tinggi, sedangkan USB 2.0 mungkin lebih banyak tersedia di berbagai sistem.

Dale Pistilli, vice president marketing, WD branded products group, mengatakan perangkat ini hadir menyambut semakin banyaknya perangkat pengambil gambar dan video berkualitas High Definition.

“Para insan kreatif bisa secara efektif mengambil, mengedit dan menyimpan dengan aman produksi video mereka tanpa perlu mengkompres video mereka atau mengurangi kualitas video tersebut secara keseluruhan kerena terbatasnya ruang yang tersedia,” kata Pistilli.

My Book Studio Edition II 6 TB memiliki perkiraan harga USD 549. Jika dirupiahkan, dengan kurs sekitar Rp 8.700, harganya menjadi sekitar Rp 4,7 juta

sumber:http://www.detikinet.com/read/2011/03/22/182959/1598921/317/wd-kenalkan-hardisk-eksternal-6tb?i991102105

Di Tegal, 978 Siswa SD Putus Sekolah

Jumlah siswa sekolah dasar di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, yang putus sekolah atau tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan SMP mencapai sekitar 978 siswa. Masalah ekonomi dan kurangnya kesadaran mengenai pendidikan menjadi beberapa penyebab putus sekolah tersebut.

Pungutan seharusnya tebang pilih, kalau perlu anak yang mampu menyubsidi anak yang tidak mampu.
— Dimyati

Berdasarkan data Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Tegal, Jumat (18/3/2011), jumlah siswa lulus SD pada 2010 sekitar 23.436 orang. Dari jumlah tersebut, jumlah siswa yang melanjutkan ke jenjang SMP sebanyak 24.4 36, terdiri siswa yang melanjutkan ke SMP sebanyak 17.474 orang, ke MTs sebanyak 5.183, dan ke pondok pesantren sebanyak 834 orang. Dengan demikian, sekitar 978 siswa, atau sekitar empat persen siswa tidak melanjutkan jenjang SMP.

Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Tegal, Waudin mengatakan, meskipun masih mencapai sekitar 978 siswa, jumlah siswa SD yang tidak melanjutkan ke jenjang SMP terus menurun dari tahun ke tahun. Pada 2009, jumlah siswa SD yang tidak melanjutkan ke jenjang SMP sekitar 2.000 orang.

Menurut dia, masih adanya siswa yang tidak memenuhi wajib belajar (Wajar) pendidikan dasar sembilan tahun karena kurangnya kesadaran masyarakat mengenai arti penting pendidikan. Beberapa siswa juga tidak melanjutkan sekolah karena bekerja. Oleh karena itu, dinas pendidikan, pemuda, dan olahraga terus memberikan sosialisasi kepada masyarakat, bahwa pendidikan merupakan kebutuhan pokok.

“Sekolah juga harus menggratiskan biaya bagi siswa miskin agar tetap bisa melanjutkan pendidikan. Tidak boleh anak terhambat sekolah, karena faktor biaya,” katanya.

Siswa yang terpaksa putus dari sekolah formal, lanjut dia, tetap didorong untuk melanjutkan pendidikan melalui Kejar Paket B. Pada 2011, Pemkab Tegal menargetkan siswa SD yang tidak melanjutkan ke SMP kurang dari 500 siswa.

Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Tegal, Dimyati, mengatakan, dari hasil pantauan dewan pendidikan kebanyakan siswa putus sekolah karena faktor ekonomi. Hal itu karena hingga saat ini masih ada pungutan pendidikan yang mengakibatkan biaya pendidikan mahal.

Pemerintah, lanjutnya, seharusnya konsisten dengan janji sekolah gratis, sehingga tidak ada lagi pungutan di sekolah. Akibat adanya slogan sekolah gratis, masyarakat cenderung apriori untuk membantu biaya pendidikan. Padahal, apabila tidak menarik iuran, sekolah masih kesulitan mengelola pendidikan.

“Pungutan seharusnya tebang pilih, kalau perlu anak yang mampu menyubsidi anak yang tidak mampu,” ujarnya.

Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Tegal, Wakhidin, mengatakan, untuk mengatasi putus sekolah pemerintah sedang memetakan daerah-daerah yang memiliki angka putus sekolah paling banyak. Setelah diketahui daerah-daerah yang memiliki angka putus sekolah terbanyak itu, barulah dilakukan upaya pengentasan pada daerah-daerah tersebut, seperti halnya upaya pengentasan kemiskinan.

Menilik Sentra Industri Logam Metropolis

BUKAN hanya sekadar dongeng belaka apabila Kota Tegal pernah dicap sebagai Jepang-nya Indonesia. Karena daerah yang terletak di pesisir Pantai Utara Jawa Tengah ini mempunyai wilayah yang menjadi sentra industri logam.

Dimana lagi jika bukan di kawasan Kejambon dan Mangkukusuman. Di situ sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai perajin maupun pengolah logam. Berbagai produk mereka hasilkan dengan kualitas serta bentuk tak kalah dengan aslinya. Contohnya onderdil kendaraan. Tidak sedikit karya mereka yang beredar di pasaran. Bahkan hasil produk putra daerah Kota Tegal juga banyak dipesan daerah lain. Tak terkecuali perusahaan-perusahaan besar yang membutuhkan spare part. Semua rata-rata lari ke Metropolis untuk mendapatkannya dengan harga jauh dibanding aslinya. Namun dengan kualitas yang patut diacungi jempol.

Seperti yang dituturkan salah seorang perajin logam, Sukamto Rochman (47). Pimpinan Bengkel Bubut dan Cor Logam, Makmur Putra Mandiri di Jalan Cempaka Nomor 10 Mangkukusuman Tegal Timur tersebut, mengaku menekuni usaha perlogaman sejak tahun 90-an. Awalnya dia hanya meneruskan usaha orang tuanya. Selanjutnya, setelah merasa mampu, dia membuka usaha sendiri dengan nama yang disebutkan tadi. Bahkan Sukamto memiliki spesialisasi, mengerjakan drilling sismic atau bor uji yang banyak dipesan PT Pertamina. “Kondisi perajin logam saat ini sangat memprihatinkan. Tidak sedikit yang gulung tikar lantaran manejemennya kurang bagus. Selain itu juga pengaruh perdagangan bebas dan harga bahan baku yang tinggi.”

Keadaan ini sangat berbeda pada era orde baru. Dimana para perajin logam berjaya. Banyak pesanan dari sana-sini. Entah dari perusahaan swasta atau pemerintah. “Dulu, untuk mendapatkan order sangat mudah. Karena dalam proses perijinannya tidak rumit. Bahan bakunya pun banyak disediakan pemerintah. Sementara sekarang, meski pemerintah menggembargemborkan kebijakan pro rakyat. Pada kenyataanya justru membuat pengusaha kecil kesulitan,” tukasnya.

Lebih lanjut Sukamto menegaskan, kejayaan para perajin logam mulai tenggelam era reformasi, sekitar tahun 1997 hingga 2000-an. Pada masa itu para pengusaha menggeliat lantaran sepinya order dan tingginya bahan baku. “Hanya sebagian kecil pengusaha logam mampu bertahan. Mereka mau berinovasi dan membuat terobosan baru secara kreatif. Sedangkan saat ini, keadaannya agak mulai bergairah lagi, meski belum seperti pada era orde baru. Saat ini mencari uang gampang. Tapi untuk mendapat untung sangat sulit. Karena itu, apabila tidak mau kreatif maka akan tenggelam.”

Hal sama diungkapkan Ketua Koperasi Industri dan Kerajinan Tegalindo, Fatchudin. Menurutnya, sentra perajin logam di Kota Tegal yang terkenal daerah Mangkukusuman dan Kejambon. Pada tahun 1975 – 1986 jumlah pengusaha pengolahan logam mencapai 8 sampai 10 orang. Sedangkan home industy yang bergerak dalam kerajinan logam kurang lebih 300 pengusaha. “Namun sekarang jumlahnya berkurang. Untuk pengelola logam tinggal sekitar 6 perusahaan, adapun home industry-nya antara 30 persen. Banyak perusahaan yang kolaps lantaran berbagai permasalahan. Di antaranya manejemen pribadi, harga bahan baku, serta perdagangan bebas. Dimana masuknya barang-barang produksi Cina melumpuhkan produk daerah. Utamanya pada hasil produksi berupa spare part motor dan mobil.”

Konsumen, imbuh Fatchudin, lebih memilih barang Cina ketimbang produk dalam negeri. Padahal kualitas dan bentuknya lebih bagus, hanya harganya yang berbeda. Akibatnya banyak pengusaha tutup atau kalaupun jalan tidak seeksis dulu. “Saat ini, kondisi perlogaman kembali menggeliat. Para perajin banyak pekerjaan, meski harga bahan baku mengalami kenaikan. Artinya, keadaan sedang tidak begitu lesu.”

Karena itu, paparnya, keberadaan dapur induksi sangat dibutuhkan para perajin logam. Dengan harapan bias mengembalikan anggapan bahwa Tegal adalah Jepang-nya Indonesia. Sebab manfaatnya untuk para pengrajin logam jelas banyak. “Itu bisa membuat pelayanan pada konsumen lebih cepat. Selain itu komposisi logamnya juga bagus, seperti tuntutan yang diinginkan konsumen. Lebih bagusnya dapat merekrut tenaga kerja dari wilayah sekitar,” pungkas Fatkhudin. (adi mulyadi)

sumber:http://www.radartegal.com/index.php/Menilik-Sentra-Industri-Logam-Metropolis.html